Senin, 08 April 2013

Jenis-Jenis Air Yang Sah Untuk Bersuci

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

1. Definisi Wudhu dan Air Bersih

Wudhu (Arab: الوضوء al-wuḍū', Persia:آبدست ābdast, Turki: abdest, Urdu: وضو wazū') adalah salah satu cara menyucikan anggota tubuh dengan air. Seorang muslim diwajibkan bersuci setiap akan melaksanakan salat. Berwudu bisa pula menggunakan debu yang disebut dengan tayammum.
Air adalah zat atau materi atau unsur yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71%permukaan bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil³) tersedia di bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub danpuncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai,danau, uap air, dan lautan es. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air) dan gas (uap air). Air bersih dapat diartikan air yang memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment air minum dan untuk treatmen air sanitasi. Persyaratan di sini ditinjau dari persyaratan kandungan kimia, fisika dan biologis. Atau memenuhi syarat sebagai berikut:1) Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (run off, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut.  Secara Umum: Air yang aman dan sehat yang bisa dikonsumsi manusia.2) Secara Fisik: Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.3) Secara Kimia:
1. PH netral (bukan asam/basa)
2. Tidak mengandung racun dan logam berat berbahaya.
Parameter-parameter seperti BOD, COD, DO, TS, TSS dan konductiviti memenuhi aturan pemerintah setempat. 
Adapun parameter air dapat dikatakan bersih antara lain: 
  1. Kesadahan (Hardness)                      Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk  busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa. Kesadahan sangat penting artinya bagi para akuaris karenakesadahan merupakan salah satu petunjuk kualitas air yang diperlukan bagi ikan. Tidak semua ikan dapat hidup pada nilai kesadahan yang sama. 
  2. Alkalinitas. secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampumenetralisir kemasaman dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang menunjukkan kapasitas pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion karbonat dan hidroksida dalam air. Ketiga ion tersebut didalam air akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menurunkan kemasaman dan menaikan pH. Alkalinitas biasanya dinyatakan dalam satuan ppm (mg/l) kalsium karbonat(CaCO3). Air dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai alkalin, sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai lunak atau tingkat alkalinitas sedang. Pada umumnya lingkungan yang baik bagi kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas diatas 20 ppm . 
                         

2.  Air Yang Sah Untuk Berwudhu

1. Air Mutlak Bahwa ia adalah air suci lagi menyucikan; suci pada dirinya dzatnya) dan menyucikan bagi lainnya. Macamnya sbb.: Air hujan, salju, es dan air embun, berdasarkan firman Allah swt.  وَيُنَزِّلُ عَلَيۡكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ  dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu   dengan hujan itu.... (QS.Al-Anfal : 11).  Dan firmanNya: r   وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ طَهُورً۬ا  "...dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih... (QS.Al-Furqan:48). 
A. Air lautBerdasarkan hadits Abu Hurairah r.a. katanya : Seorang laki-laki menanyakan kepada   Rasulullah, katanya: Ya Rasulullah, kami biasa berlayar di lautan dan hanya membawa air sedikit. Jika kami pakai air itu untuk berwudhuk, akibatnya kami akan kehausan, maka bolehkah kami berwudhuk dengan air laut? berkatalah Rasulullah saw: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ "Laut itu airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal dimakan. (Diriwayatkan oleh yang berlima).
B. Air telaga, karena apa yang diriwayatkan oleh Ali r.a. artinya bahwa Rasulullah saw. meminta seember penuh dari air zamzam, lalu diminumnya sedikit dan dipakainya buat berwudhu. (HR.Ahmad).
C. Air yang berubah disebabkan lama tergenang atau tidak mengalir, atau disebabkan bercampur dengan apa yang menurut  galibnya tak terpisah dari air seperti kiambang dan daun-daun kayu, maka menurut kesepakatan ulama, air itu tetap termasuk air mutlak, Alasannya, bahwa setiap air yang dapat disebut air secara mutlak ialah tanpa kait, boleh dipakai untuk bersuci, firman Allah swt.: فَلَمۡ تَجِدُواْ مَآءً۬ فَتَيَمَّمُواْ    ... lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah... (QS.Al-Maidah: 6).
2. Air Musta'mal, Yang Terpakai
Yaitu air yang telah terpisah dari anggota-anggota orang yang berwudhu' dan mandi (bekas wudhu').  Hukumnya suci dan mensucikan sebagimana air mutlak, berdasarkan hadits Ruhaiyi' binti Mu'awwidz sewaktu menerangkan cara wudhu' Rasulullah saw, katanya : "Dan disapunya kepalanya dengan sisa wudhu' yang terdapat pada , kedua tangannya."
3. Air Yang Bercampur dengan Barang yang Suci
Misalnya bercampur dengan sabun, kiambang, tepung danlain-lain yang biasanya terpisah dari air. hukumnya tetap  menyucikan selama kemutlakannya masih terpelihara, Jika  sudah tidak, hingga ia tak dapat lagi dikatakan air mutlak,   maka hukumny ialah suci pada dirinya tapi tidak  menyucikan bagi lainnya.
 4. Air Yang Bernajis:
  1. Merubah. Bila najis itu mengubah salah satu diantara rasa, warna atau baunya, para ulama bersepakat bahwa air itu tidak dapat dipakai untuk bersuci.  Inilah pendapat al-Imâm asy-Syaukâni dalam as-Sailul Jarrâr, Bâbul Miyâh. Imam Bukhari dalam kitab Shahîh-nya juga menuliskan komentar dengan redaksi yang tegas dari ucapan az-Zuhri, di mana beliau mengatakan:لَا بَأْسَ بِالْمَاءِ؛ مَا لَمْ يُغَيِّرْهُ طَعْمٌ أَوْ رِيْحٌ أَوْ لَوْنٌ Tidak mengapa dengan air yang tidak berubah rasanya, baunya, atau warnanya.” [Fathul Bâri: 1/342].
  2. Tidak merubah. Bila air tetap dalam keadaan mutlak, atau salah satu diantara sifatnya yang tiga tadi tidak berubah, hukumnya ia suci dan menyucikan, biar sedikit atau banyak. Rasûlullâh saw. pernah bersabda perihal sumur Budhâ’ah, sebuah sumur di dataran rendah yang sering kemasukan kotoran: إِنَّ الْمَاءَ طَهُوْرٌ، لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ Sesungguhnya air sumur tersebut suci, tidak ada yang menjadikannya na’jis. [Shahîh Sunan Abi Dâwud: 60]. Rasûlullâh saw. juga bersabda: إِذا بَلَغَ الْمَاءَ قُلَّتَيْنِ؛ لَمْ يَحْمِلِ الخَبَثِ Jika air sudah mencapai ukuran 2 Qullah (kurang lebih 210-270 liter-pent), maka air tersebut tidak membawa na’jis.[Shahîh Sunan Abi Dâwud: 56]. Artinya, sedikit na’jis yang mengenai air sebanyak 2 Qullah atau lebih, tidak berpengaruh terhadap kesucian air. [Fatwa Lajnah ad-Dâ-imah no: 20374, alifta.net]Ini pula pendapat Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Hasan Basri, Ibnu Musaiyah, Ikrimah, Ibnu abi Laila, Tsauri, Daud Azh_Zhahiri, nakha'i, Malik dll. Hal ini berdasarkan sekian banyak hadits terkait, diantaranya : Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a.: " Dikatakan orang: 'Ya Rasulullah, bolehkah kita berwudhuk dari telaga Budha'ah? Maka bersabdalah Rasulullah saw. ' air itu suci lagi menyucikan tak satupun yang akan menajisinya'."(HR.Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Syafi'i). Adapun hadits Abdullah bin Umar r.a. (di atas) bahwa Nabi bersabda: "Jika air sampai dua kulah, maka ia tidaklah mengandung najis." (HR.yang berlima), ia adalah hadits Mudhhtarib, artinya tidak karuan, baik sanad maupun matannya. Gazzali berkata: " Saya berharap kiranya mazhab Syafi'i mengenai air, akan sama dengan mazhab Malik." Sementara Ibnu 'Abdil Barr di dalam At-Tahmid berkata: "Pendirian Syafi'i mengenai hadits dua kulah, adalah mazhab yang lemah dari segi penyelidikan, dan tidak berdasar dari segi alasan.

3. Pengertian Dua Kullah


Apakah Air Kurang dari Dua Qullah Jika Kemasukan Najis Menjadi Najis?

Air dua qullah adalah air seukuran 500 rothl ‘Iraqi yang seukuran 90 mitsqol. Jika disetarakan dengan ukuran sho’, dua qullah sama dengan 93,75 sho’[18]. Sedangkan 1 sho’ seukuran 2,5 atau 3 kg. Jika massa jenis air adalah 1 kg/liter dan 1 sho’ kira-kira seukuran 2,5 kg; berarti ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. Jadi, ukuran air dua qullah adalah ukuran sekitar 200 liter. Gambaran riilnya adalah air yang terisi penuh pada bak yang berukuran 1 m x 1 m x 0,2 m.

Sebagian ulama memiliki pendapat bahwa jika air kurang dari dua qullah dan kemasukan najis sedikit ataupun banyak, baik airnya berubah atau tidak, maka air tersebut menjadi najis. Alangkah bagusnya jika kita dapat melihat pembahasan berikut ini.

Hadits Air Dua Qullah

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak mungkin dipengaruhi kotoran (najis). (HR. Ad Daruquthni).

Dalam riwayat lain disebutkan,

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya. ” (HR. Ibnu Majah” dan Ad Darimi).

[Jika Air Lebih Dari Dua Qullah]

Dari hadits dua qullah ini, secara mantuq (tekstual), apabila air telah mencapai dua qullah maka ia sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika air tersebut berubah rasa, bau atau warnanya karena najis, maka dia menjadi najis berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama).

Misalnya: air bak kamar mandi (jumlahnya kira-kira 300 liter –berarti lebih dari dua qullah-) kena percikan air kencing, maka air bak tersebut tetap dikatakan suci karena air dua qullah sulit dipengaruhi oleh najis. Namun, jika kencingnya itu banyak sehingga merubah warna air atau baunya, maka pada saat ini air tersebut najis.

Inilah mantuq (makna tekstual) dari hadits di atas. Namun secara mafhum dari hadits ini (makna implisit yaitu bagaimana jika air tersebut kurang dari dua qullah lalu kemasukan najis), para ulama berselisih pendapat. Perhatikan penjelasan selanjutnya.
[Jika Air Kurang Dari Dua Qullah]
Sebagian ulama seperti Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad dan pengikut mereka menyatakan bahwa jika air kurang dari dua qullah, air tersebut menjadi najis dengan hanya sekedar kemasukan najis walaupun tidak berubah rasa, warna atau baunya.
Jadi menurut pendapat ini, jika air lima liter (ini relatif sedikit) kemasukan najis (misalnya percikan air kencing), walaupun tidak berubah rasa, bau atau warnanya; air tersebut tetap dinilai najis. Alasan mereka adalah berdasarkan mafhum (makna inplisit) dari hadits dua qullah ini yaitu jika air telah mencapai dua qullah tidak dipengaruhi najis maka kebalikannya jika air tersebut kurang dari dua qullah, jadilah najis.
Namun ulama lainnya seperti Imam Malik, ulama Zhohiriyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahb dan ulama Najd menyatakan bahwa air tidaklah menjadi najis dengan hanya sekedar kemasukan najis. Air tersebut bisa menjadi najis apabila berubah salah satu dari tiga sifat yaitu rasa, warna atau baunya.
Alasan pendapat pertama tadi kurang tepat. Karena ada sebuah hadits yang menyebutkan,
إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ
“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.[HR. Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ahmad. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 478]
Hadits ini secara mantuq (makna tekstual), air asalnya adalah suci sampai berubah rasa, bau atau warnanya. Sedangkan pendapat pertama di atas berargumen dengan mafhum (makna inplisit). Padahal para ulama telah menggariskan suatu kaedah, “Makna mantuq lebih didahulukan daripada mafhum.” Maksudnya, makna yang dapat kita simpulkan secara tekstual (mantuq) lebih utama untuk diamalkan daripada makna yang kita simpulkan secara inplisit (mafhum). Inilah kaedah yang biasa digunakan oleh para ulama.
Alasan lainnya, hukum itu ada selama terdapat ‘illah (sebab). Jadi kalau ditemukan sesuatu benda suci berubah rasa, warna dan baunya karena benda najis, barulah benda suci tersebut menjadi najis. Jika tidak berubah salah satu dari tiga sifat ini, maka benda suci tersebut tidaklah menjadi najis. Oleh karena itu, dengan alasan inilah pendapat kedua lebih layak untuk dipilih dengan kita tetap menghormati pendapat ulama lainnya. Wallahu a’lam bish showab.
Kesimpulannya: Najis atau tidaknya air bukanlah dilihat dari ukuran (sudah mencapai dua qullah ataukah belum). Jika air lebih dari dua qullah kemasukan najis, lalu berubah salah satu dari tiga sifat tadi, maka air tersebut dihukumi najis. Begitu pula jika air kurang dari dua qullah. Jika salah satu dari tiga sifat tadi berubah, maka air tersebut dihukumi najis. Jika tidak demikian, maka tetap dihukumi sebagaimana asalnya yaitu suci.
Bolehkah Menggunakan Air Musyammas (Air yang Terkena Terik Matahari)?
Komisi Fatwa di Saudi Arabia, yaitu Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’ pernah ditanyakan mengenai hal ini, lalu para ulama yang duduk dalam komisi tersebut menjawab:
لا نعلم دليلا صحيحا يمنع من استعمال الماء المشمس
“Kami tidak mengetahui satu dalil shahih yang melarang menggunakan air musyammas (air yang terkena terik matahari).”
Yang menandatangani fatwa ini: Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh ‘Abdullah bin Ghodyan selaku anggota, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz selaku ketua. (Soal keenam dari Fatwa no. 7757)[22]
Intinya, air musyammas masih boleh digunakan untuk berwudhu.  
 Wallahu a'lam.
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/air-yang-digunakan-untuk-berwudhu.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar