Senin, 08 April 2013

Cara Menyimpan Rumput Agar Awet Segar

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Anda tidak perlu tertawa membaca judul di atas hanya karena tidak punya kambing atau karena sekarang sudah jadi orang kota, sebuah pengetahuan bagaimanapun juga akan ada manfaatnya, apalagi jika bisa dibagikan kepada orang lain yang memerlukannya.
Pada musim hujan biasanya rumput tumbuh subur dan melimpah, sehingga hewan-hewan ternak pemakan rumput (herbivora) dapat tercukupi kebutuhan pangannya. Hewan berkembang dengan baik, gemuk dan sehat.
Tetapi pada musim kemarau, kebanyakan rumput menjadi kering dan mati. Ternak pemakan rumput mengalami kekurangan pangan, sehingga kurus dan kering. Untuk mengatasi hal tersebut, sedapat mungkin kita berusaha agar rumput yang melimpah pada musim penghujan itu dapat disimpan untuk persediaan pangan di musim kemarau.
Bisakah ? bagaimana caranya ?
Perhatikan beberapa tip berikut :


1. Sistim Gali Lubang

  1. Membuat lubang di tanah yang besarnya disesuaikan dengan banyaknya rumput yang akan disimpan.
  2. Waktu musim penghujan, cari rumput sebanyak-banyaknya, lalu diikat dengan ikatan-ikatan yang kuat.
  3. Ikatan-ikatan rumput yang padat itu dimasukkan ke dalam lubang, ditekan hingga padat sekali. (lubang perlu dikosongkan lebih kurang 50 cm di bagian atasnya (permukaan). jadi rumput tidak sampai rata dengan permukaan tanah.
  4. Lubang yang belum dipenuhi rumput ditimbun dengan tanah galian. dipadatkan dan diratakan.
  5. Pada musim kemarau, disaat ternak pemakan rumput kekurangan pakan, simpanan ini dapat dibuka dan dikeluarkan. Hasil penyimpanan ini menjadikan rumput  masih cukup segar dan bermutu sebagai pakan ternak. Maka ternakpun tetap terjaga stok pakannya sehingga tetap gemuk, sehat dan bergairah.

2. Sistim Silase

Silase merupakan pengawetan rumput dalam ruang/wadah yang tertutup rapat (kedap udara/anaerob). Pada kondisi tertutup rapat, jasad renik (bakteri, jamur) tidak memiliki kemampuan untuk membusukkan rumput karena lingkungan hidupnya tidak mendukung. Sehingga rumput akan awet selama berbulan-bulan. Silase juga memungkinkan rumput terkonsumsi dengan baik tanpa tersisa, karena bentuk/teksturnya lebih lembut dan kandungan gizinya meningkat rata-rata 10 persen dibandingkan bila diberikan dalam bentuk rumput segar.
Cara Membuat dan Mengaplikasikan Silase Rumput
Hal penting yang harus diperhatikan adalah tidak diperbolehkannya udara masuk ke dalam wadah saat proses pembuatan silase berlangsung. Udara yang masuk bisa mengaktifkan bakteri pembusuk dan menjadi lingkungan tumbuh bagi ulat. Kegagalan pembuatan silase ditandai dengan adanya panas yang terus-menerus seperti pada proses pengomposan. Apapun media dan bagaimanapun caranya, selama masih berkaitan dengan penyimpanan rumput segar dalam wadah/ruang tertutup, bisa disebut silase. Media dan cara yang berbeda hanyalah persoalan kreativitas sesuai potensi lingkungan. Berikut adalah contoh tahapan-tahapan pembuatan silase rumput dengan menggunakan karung plastik:
1. Rumput dilayukan sehingga kandungan airnya menjadi berkurang. Proses pelayuan bisa melalui penjemuran atau membiarkan di udara terbuka.
2. Rumput dicacah seukuran 5-10 cm, agar mudah disimpan lebih padat untuk meminimalkan rongga-rongga udara dalam wadah dan agar lebih banyak yang tersimpan dalam wadah. Pencacahan bisa secara manual atau dengan bantuan mesin yang dirancang sendiri. Mesin rancangan sederhana terdiri dari dua pisau pemotong yang diputar seperti baling-baling dengan bantuan motor listrik.
3. Rumput dimasukkan dalam karung dan dipadatkan. Tujuan memasukkan dalam karung agar ujung-ujung cacahan rumput tidak menusuk/melubangi kantung plastik dalam point 4.
4. Rumput dalam karung tersebut dimasukkan dalam kantung plastik besar dan ditutup rapat dengan mengikat kedua ujungnya, sehingga udara tidak masuk. Plastik besar bisa diperoleh di toko dengan harga per satuan meter.
5. Simpan di tempat teduh dan biarkan proses berlangsung minimal selama seminggu. Silase yang telah jadi akan beraroma harum. Berikan untuk ternak saat akan diperlukan, dan tutup rapat kembali.

Catatan:
  1. Khusus untuk daun randu, sebaiknya diberikan dalam bentuk segar karena beberapa kali percobaan selalu gagal seperti membusuk. 
  2. Sebagian besar ternak mungkin perlu beradaptasi mengkonsumsi silase, awalnya ternak tidak mau memakan silase yang diberikan. Ternak bisa dipaksa dengan menambahkan garam secukupnya pada silase yang diberikan sampai akhirnya terbiasa. 
  3. Bila ternak tetap tidak mau memakan silase, tetaplah paksa, paksa, paksa dengan tidak memberikan pakan lain karena silase rumput memiliki kandungan gizi yang lebih besar dari rumput segar. (Jangan takut dituduh melanggar HAM).
Mudah-mudahan bermanfaat.
Sumber:
http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2012/06/05/silase-menyiasati-kebuntuan-rumput-untuk-pakan-ternak-468542.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar