Senin, 25 Maret 2013

Keutamaan Malam Lailatul Qadar di Bulan Ramadhan

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Berdasarkan keterangan al-Qur'an dan al-Sunnah, disebutkan bahwa dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam yang indah itu disebut Lailatul Qadar atau malam kemuliaan. Bila seorang muslim mengerjakan kebaikan-kebaikan di malam itu, maka nilainya lebih baik dari mengerjakan kebaikan selama seribu bulan atau sekitar 83-84 tahun. 
Lailatul Qadar atau Malam Ketetapan adalah salah satu malam di bulan Ramadhan dimana para malaikat  dan Jibril turun ke langit dunia untuk mengatur segala urusan, disebut juga malam kemuliaan.
Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah pada surah al-Qadr: 1-5 
إِنَّآ أَنزَلۡنَـٰهُ فِى لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِ (١) وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ (٢)لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٌ۬ مِّنۡ أَلۡفِ شَہۡرٍ۬ (٣) تَنَزَّلُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ وَٱلرُّوحُ فِيہَا بِإِذۡنِ رَبِّہِم مِّن كُلِّ أَمۡرٍ۬ (٤) سَلَـٰمٌ هِىَ حَتَّىٰ مَطۡلَعِ ٱلۡفَجۡرِ (٥)
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al Qur’an] pada malam kemuliaan . (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (4)Malam itu [penuh] kesejahteraan sampai terbit fajar. (5).
Penjelasan Tafsir:
1. "Anzala" terambil dari kata "Nazala" yang bermakna turun atau berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang  rendah, biasanya untuk menyatakan sesuatu yang turun secara sekaligus.. Bentuk lain yang terambil dari kata "Nazala" adalah kata berpola "nazzala"(dengan tasydid pada 'ain fi'il) yang mempunayai makna turun secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit atau berkesinambungan. Makna ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an (kata ganti ه) diturunkan dari Lauh Mahfudz ke langit dunia secara sekaligus - sedang dari langit dunia kepada Nabi Muhammad saw. diturunkan secara berangsur-angsur, yang dibawa oleh Malaikat Jibril selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari.
2. Paling tidak ada 4 pendapat ulama tentang makna "Al-Qadr" di atas. 1.Penetapan, yakni penetapan Allah atas perjalanan hidup mahluk selama setahun, sebagaimana firman Allah dalam Q.S.Ad-Dukhan (44) ayat 3-4:                                                  إِنَّآ أَنزَلۡنَـٰهُ فِى لَيۡلَةٍ۬ مُّبَـٰرَكَةٍ‌ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ (٣) فِيہَا يُفۡرَقُ كُلُّ أَمۡرٍ حَكِيمٍ Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. (3) Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah  (4). 
2. Pengaturan; Yakni malam turunnya Al-Qur'an, Allah mengatur khittah atau strategi bagi Nabi-Nya Muhammad saw. guna mengajak manusia kepada kebaikan. 
3. Kemuliaan; Ini berarti, bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan Al-Qur'an pada malam yang mulia. 
4. Sempit; Yakni pada malam turunnya Al-Qur'an malaikat begitu banyak yang turun sehingga bumi menjadi penuh sesak bagaikan sempit. Wallaahu a'lam.

1, Keutamaan Malam Lailatul Qadar 

Bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan  (83,3 tahun), maksudnya beribadah pada malam itu misalnya shalat, berdzikir atau mengaji lebih utama dari amalan seribu bulan yang tidak mempunyai  lailatul qadar atau memiliki ganjaran yang banyak sekali disamping dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.

2. Di Malam Mana Jatuhnya ?

  • 10 Malam terakhir. Terdapat pendapat yang mengatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan, hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah yang mengatakan : " Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan beliau bersabda, yang artinya: "Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon" " (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169). 
  • Mengintai Setiap malam. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Lailatul Qadar kemungkinan akan "diwujudkan" oleh Allah pada malam ganjil, tetapi mengingat umat islam memulai awal puasa pada hari atau tanggal yang berbeda, maka umat islam yang menghendaki untuk mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar dapat "mencarinya" setiap malam. Agar kita yang menghendaki "mendapatkan" Lailatul Qadar, maka berbuka puasalah "sekedarnya" saja agar badan tidak "menjadi berat" dan malas serta menjadi sebab ngantuk dan mudah tertidur, sehingga yang kita inginkan untuk mendapatkan Lailatul Qadar tidak membuahkan hasil.
  • Malam ganjil. Sebagian ulama berpendapat bahwa lailatul qadar terjadi pada malam 21 atau 23 atau 25 atau 27 atau 29, serta ada yang mengatakan bahwa ia berpindah-pindah pada malam-malam ganjil dari sepuluh yang terakhir. Tapi kebanyakan mereka berpendapat bahwa jatuhnya ialah pada malam kedua puluh tujuh, wallahu a’lam
  • Malam 27 Ramadhan. “Barangsiapa yang ingin mencari malam qadar atau lailatul qadar maka carilah pada malam 27." (HR.Ahmad).


3. Tanda-Tanda Telah Turunnya Lailatul Qadar

Banyak orang beranggapan bahwa orang yang mendapatkan lailatul qadar akan mengalami kasyaf di malam tersebut. “Kasyaf” sendiri artinya ‘terbukanya tabir gaib’, seperti: bisa melihat langit terbelah, malaikat datang, melihat cahaya di langit, atau tulisan lafal “Allah”, dan sebagainya. Semua anggapan ini adalah anggapan yang tidak berdasar.
  • Tanda telah turunnya. Tanda telah terjadinya lailatul Qadar pada malam harinya ialah Ketika akan terbit matahari pada pagi harinya kelihatan cahayanya memutih tidak bersinar-sinar.
  • Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang lailatul qadar, “Dia adalah malam yang indah, sejuk, tidak panas, tidak dingin, di pagi harinya matahari terbit dengan cahaya merah yang tidak terang.” (H.r. Ibnu Khuzaimah; dinilai sahih oleh Al-Albani).

4. Amalan Yang Dianjurkan Dilakukan

  • Disunatkan mencari Lailatul Qadar itu pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Nabi saw. amat giat mencari saat itu pada sepuluhhari yang terakhir, dimana beliau meramaikan malamnya dengan beribadah, membangunkan keluarga dan mempererat sarungnya (menjauhi isteri-isterinya).
  • Mandi, berhias, dan memakai minyak pada waktu antara magrib sampai isya.
  • Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa ketika bulan Ramadan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tidur dan bangun beribadah. Akan tetapi, ketika masuk 10 hari terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menjauhi istri-istrinya, dan mandi pada waktu antara maghrib sampai isya. Ibnu Jarir mengatakan, “Dahulu, para sahabat menganjurkan untuk mandi setiap malam pada sepuluh malam terakhir.”
  • Rasulullah saw. :”Barangsiapa menegakkan kebaikan pada malam ketetapan atau lailatul qadar dengan penuh iman dan sungguh-sungguh maka akan diampuni oleh Allah dosa-dosanya (kesalahannya) yang telah lalu (HR.Bukhari).
  • DariA’isyah r.a. : “Saya bertanya :’Ya Rasulullah, bagaimana pendapat anda seandainya saya tahu malam jatuhnya lailatul Qadar itu, apakah yang harus saya ucapkan pada waktu itu’? Maka ujar Nabi: ‘Katakanlah: Allaahumma Innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’annii (Ya Allah, sesungguhnya engkau adalah pemberi maaf dan senang kepada orang yang mema’afkan maka ma’afkanlah aku “. (HR.Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi).
Rangkaian aktifitas ibadah mencari Lailatul Qadar sering disebut dengan I’tikaf (lihat pengertiannya di halaman lain).
                      ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
Fikih Sunnah, Sayyid Saabiq
http://www.konsultasisyariah.com/malam-lailatul-qadar/

1 komentar:

  1. terima kasih infonya
    tentang keutamaan malam yang penuh hikmah ini
    sangat bermanfaat

    BalasHapus