Minggu, 31 Maret 2013

Jenis Amal Shaleh Jariah yang Pahalanya Terus Mengalir

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Amal Jariyah adalah sebutan bagi amalan yang terus mengalir pahalanya, walaupun orang yang melakukan amalan tersebut sudah wafat. Amalan tersebut terus memproduksi pahala yang terus mengalir kepadanya. Ditinjau dari beberapa haditsNabi ada beberapa amalan yang berguna untuk orang yang sudah meninggal dunia, yaitu :
Hadis tentang amal jariyah yang populer dari Abu Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
  إذا مات الإنسانُ انقطعَ عملُه إلا من ثلاثٍ: صدقةٍ جاريةٍ، أو علمٍ يُنْتفعُ بهِ، أو ولدٍ يدعو له (رواه البخاري ومسلم
‘Jika manusia mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang mendoakannya’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Padahal, hadits tersebut hanyalah sekedar menyebut jumlah, tidak bermaksud membatasi hanya pada tiga amal tersebut. Dalam hadits-hadits lain, kita akan temukan bahwa selain tiga amal tersebut, masih banyak amal lain yang tetap mengalir kepada orang yang sudah mati setelah kematiannya. misalnya: 
"Apabila anak Adam (manusia) wafat, maka terputuslah semua (pahala) amal perbuatannya kecuali tiga macam perbuatan, yaitu sedekah jariah, ilmu yang berman­faat, dan anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim).
Selain dari ketiga jenis perbuatan di atas, ada lagi beberapa macam perbuatan yang tergolong dalam amal jariah.


1. Arti Kata Amal Jariyah

Istilah Amal Jariyah itu adalah istilah khas Indonesia. Kata-kata amal jariyah sudah menjadi bahasa sehari-hari seperti Bahasa Indonesia yang lain. Padahal kata amal jariyah tersebut berasal dari bahasa Al-Qur’an dari kata-kata a’malun (perbuatan hasil karya) yang mengalami perubahan bentuk bisa menjadi a’mila yang artinya “mengerjakan”. Dan kata a’mila ini kebanyakan bersatu dengan kata-kata “shalihan” (shaleh) menjadi “amila shalihan” (mengerjakan amal shaleh). Penyatuan dua tersebut dapat dijumpai dalam QS. Al-Baqarah : 62, QS. Almaidah : 69, QS. An-Nahl : 97, QS. Al-Kahfi : 88, QS. Maryam : 60, QS. Thaha : 75,82 dan masih banyak lagi ayat-ayat itu. Demikian kata-kata a’milu juga menyatu dengan kata-kata “shalihat” menjadi “a’milu shalihat” (berbuat baik) ayat-ayatnya pun dapat dijumpai dalam QS. Al-Baqarah : 25,82,277; QS. Al-A’raf : 43, QS. Yunus : 4 dan masih banyak lagi ayat-ayat itu.
Adapun kata “jariyah” (mengalir) dalam Al-Qur’an tidak pernah menyatu dengan kata-kata amal jariyah yang sering disebut sebagai “amal jariyah”. Kata “jariyah” di dalam Al-Qur’an dapat dijumpai dalam surat Al-Haqqah : 11 dan Al-Ghasyiyyah : 12 dan Al-Dzariyat : 3 dan ini semuanya tidak menyatu dengan kata-kata a’malan, a’milun.
Dalam tuturan sehari-hari, kita telah menyatukan dua kata ini, dalam Al-Qur’an sehingga sebutannya menjadi “amal jariyah” yang artinya perbuatan baik yang terus mengalir baik manfaatnya, maupun pahalanya. Apalagi dihubungkan dengan QS. At-Tin : 6, “kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”.
Penyatuan kedua kata dalam Al-Qur’an (a’mal jariyah) ini sebenarnya menunjukkan dorongan atau motivasi supaya kita secara istiqamah (terus terang) mengerjakan perbuatan kebajikan, karena dibalik itu ada manfaat dan pahala yang terus mengalir tanpa putus.

2. Beberapa Hadits Tentang Jenis dan Pahala Amal Jariah

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أن مما يلحق المؤمن من حسانته بعد موته: علما نشره، أو ولدا صالحا تركه، أو مصحفا ورّثه، أو مسجدا بناه، أو بيتا لإين السبيل بناه، أو نهرا أجراه، أو صدقةً أخرجها من ماله في صحته تلحقه بعد موته (رواه أبن ماجة وابن خزيمة
Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya di antara amal kebaikan orang beriman yang akan mengalir kepadanya setelah kematianny adalah: ilmu yang disebarluaskannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf al-Quran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah singgah yang dibangunnya untuk ibnu sabil, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dikeluarkannya semasa sehatnya. Semua itu akan mengalir baginya setelah kematiannya’ (Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).
Dalam kitab Syarh as-Shudur, Imam al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi menyebutkan hadits-hadits lain yang menyebut lebih dari tiga amal tersebut. Berikut adalah hadits-hadits yang dimaksud.
عن جرير بن عبد الله مرفوعا: من سنّ سنّة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء، ومن سنّ سنّة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء (رواه مسلم
Dari Jarir bin Abdullah secara marfu, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang baik, maka ia mendapatkan pahala rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula pahala orang yang melanjutkan tradisi baik tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut. Barangsiapa yang merintis suatu tradisi yang jelek, maka ia maka ia mendapatkan dosa rintisan tersebut dan setelah ia meninggal dunia ia mendapatkan pula dosa orang yang melanjutkan tradisi jelek tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang melanjutkan tradisi tersebut’ (Riwayat Muslim).
عن ثوبان، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كنت نهيكم عن زيارة القبور فزوروها، واجعلوا زيارتكم لها صلاةً عليهم، واستغفارا لهم (رواه الطبراني
Tsauban menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Dulu aku pernah melarang kalian melakukan ziarahkubur, maka sekarang lakukan ziarah kubur. Jadikan ziarah kubur kalian itu sebagai kesempatan untuk mendoakan mereka sekaligus permohonan ampunan bagi mereka’ (Riwayat at-Thabrani).

3. Tujuh macam amal yang tergolong amal jariah 

1. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal, seperti diskusi, ceramah, dakwah, dan sebagainya. Termasuk dalam kategori ini adalah me­nulis buku yang berguna dan mempublikasikannya. 
عن أبي سعيد الخدري مرفوعا: من علّم آيةً من كتاب الله أو بابا من علم أنمى الله أجره إلى يوم القيامة (رواه أبن عساكر
Dari Abu Sa’id al-Khudry secara marfu, Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa yang mengajarkan satu ayat dari Kitabullah atau satu pembahasan dari suatu ilmu, maka akan mengembangkan pahalanya sampai hari Kiamat’ (Riwayat Ibnu Asakir).
2. Mendidik anak menjadi anak yang saleh. Anak yang saleh akan selalu berbuat kebaikan di dunia. Menurut keterangan hadis ini, kebaikan yang diperbuat oleh anak saleh pahalanya sampai kepada orang tua yang mendidiknya yang telah wafat tanpa mengurangi nilai/pahala yang diterima oleh anak tadi.
عن أبي أمامة، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: أربعةٌ تجري عليهم أجورهم بعد الموت: مرابطٌ في سبيل الله، ومن علّم علما، ورجلٌ تصدّق بصدقة، فأجرها له ما جرت، ورجل ترك ولدا صالحا يدعو له (رواه أحمد
Dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 4 golongan yang senantiasa mengalir pahala kepada mereka setelah meninggal dunia, yaitu: orang yang berjaga untuk berjihad di jalan Allah, orang yang mengajarkan ilmu, orang yang berrsedekah jariah, dan orang yang meninggalkan anak shalih yang berdoa untuknya’. (Riwayat Ahmad).
3. Mewariskan mushaf (buku agama)kepada orang-orang yang dapat memanfaatkannya untuk kebaikan diri dan masyarakatnya.
4. Membangun masjid. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi saw.:  ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Orang yang membangun masjid tersebut akan menerima pahala seperti pahala orang yang beribadah di mas­jid itu.
5. Mengalirkan air secara baik dan bersih ke tampat-tempat orang yang membutuhkannya atau menggali sumur di tempat yang sering dilalui atau didiami orang banyak. Setelah orang yang mengalirkan air itu wafat dan air itu tetap mengalir serta terpelihara dari kecemaran dan dimanfaatkan orang yang hidup maka ia mendapat pahala yang terus mengalir.Semakin banyak orang yang memanfaat­kannya semakin banyak ia menerima pahala di akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa membangun sebuah sumur lalu diminum oleh jin atau burung yang kehausan, maka Allah akan mem­berinya pahala kelak di hari kiamat.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah).
,عن أنس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: سبعٌ يجري للعبد أجرها بعد موته وهو في قبره: من علّم علما، أو أجرى نهرا، أو حفر بئرا، أو غرس نخلا، أو بنى مسجدا، أو ورّث مصحفا، أو ترك ولدا يستغفر له بعد موته (رواه البزار وأبو نعيم
Anas bin Malik menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Ada 7 hal yang pahalanya terus mengalir kepada seorang hamba setelah kematiannya dan ia berada di kuburnya, yaitu: orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali/membuat sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf al-Quran, dan meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah kematiannya’ (Riwayat al-Bazzar dan Abu Nu’aim).
6. Membangun rumah atau pondokanbagi orang-orang yang bepergian untuk kebaikan. Setiap orang yang memanfaatkannya, baik untuk istirahat sebentar maupun untuk bermalam dan kegunaan lain yang bukan untuk maksiat, akan mengalirkan pahala kepada orang yang membangunnya.
7. Menyedekahkan sebagian harta. Sedekah yang diberikan secara ikhlas akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.


4. Cakupan Jenis Amal Secara Umum

    Jika kita gabungkan informasi semua hadits tersebut, maka kita dapatkan bahwa ada 13 amal yang pahalanya tetap mengalir setelah kematian, sebagai berikut:
    1. Sedekah jariah
    2. Ilmu yang bermanfaat buat orang lain
    3. Doa (permohonan ampun) anak setelah kematian seseorang.
    4. Berjaga untuk jihad di jalan Allah
    5. Merintis suatu tradisi yang baik
    6. Pelestarian tradisi yang baik oleh generasi berikut
    7. Mewariskan mushhaf al-Quran
    8. Membangun masjid
    9. Membangun rumah singgah untuk ibnu sabil
    10. Mengalirkan sungai
    11. Membuat sumur
    12. Menanam pohon kurma (atau pohon lain yang buahnya/hasilnya dapat dinikmati oleh orang lain atau binatang)
    13. Doa dan permohonan ampun dari peziarah kubur kepada penghuni kubur.
    Jadi, amal yang pahalanya akan terus mengalir setelah kematian bukan hanya tiga.
                          ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                                “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
    Sebarkan !!! insyaallah Bermanfaat. 
    Sumber: 
    Pedoman Fikih Islam, Hussein Bahresj, Penerbit: AL-Ikhlas, Surabaya
    www.Arrahmah.com
    bangaziem.wordpress.com. 
    http://athohirluth.lecture.ub.ac.id/2014/02/amal-jariyah/

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar