Selasa, 26 Maret 2013

Do'a Mohon Diselamatkan Dari Orang-Orang Dzalim

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Dalam Al-Quran terdapat kurang lebih 200 ayat yang khusus membicarakan dan menjelaskan segala hal yang berkaitan dengan masalah “dzalim” atau “kedzaliman”, suatu perkara yang sangat dibenci oleh Allah SWT sebagaimana yang tersurat dalam salah satu firman-NYA:
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada merekadengan sempurna  pahala amalan-amalan mereka; dan Allah sangat benci kepada orang-orang yang dzalim.”  (Q.S.Ali ‘Imran: 57).
Secara umum makna kata “dzalim” yang kita kenal adalah segala sesuatu perbuatan jahat ataupun berbuat aniaya; baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri dan makhluk lainnya.
Sedangkan menurut syariat (agama Islam) yang mengacu pada firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat  229 yang berbunyi: “Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim”; maka makna “dzalim” yang didefinisikan oleh para ulama mendefinisikan adalah:
“Segala sesuatu  tindakan atau perbuatan  yang melampaui batas,  yang  tidak  lagi  sesuai  dengan ketentuan  yang  telah ditetapkan oleh Allah SWT. Baik dengan cara menambah  ataupun  mengurangi hal-hal yang berkaitan dengan waktu; tempat atau letak maupun sifat dari perbuatan-perbuatan yang melampaui batas tersebut. Dan itu berlaku untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ibadah (hablum-minallah), maupun hubungan kemanusiaan dan alam semesta (hablum-minannaas).  Entah itu dalam skala kecil maupun besar, tampak ataupun tersembunyi.”
Dan oleh karena Allah SWT juga menyandingkan kata kedzaliman  dengan kebodohan sebagaimana firman-NYA dalam surah Al-Ahzab ayat 72: Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh; maka dalam pandangan agama orang-orang dzalim tersebut sesungguhnya  dipandang  sebagai  orang  yang  bodoh. Dalam hal ini semakin  zalim  dirinya, maka semakin tinggilah kebodohannya. Sekalipun secara lahiriah ia memiliki pendidikan yang tinggi, gelar yang banyak maupun jabatan; kedudukan dan kekuasaan yang dipandang hormat oleh orang lain.

1. Penyebab seseorang melakukan kedzaliman:

  1. Merasa ada kekurangan dan kelemahan di dalam diriKarena orang yang zalim tidak memiliki sifat-sifat yang baik, dan dia mengetahui hal ini, maka dia justru mengkompensasinya dengan melakukan perbuatan zalim. Karena itulah Allah tidak mungkin berbuat zalim, karena Dia Mahasempurna dalam segala aspek dan tidak membutuhkan apa pun. Karena itu, untuk apa Dia berbuat zalim. Di dalam hadits diterangkan,  إنما يحتاج إلى الظلم الضعيف  artinya: Yang merasa perlu berbuat dzalim hanyalah orang yang lemah. 
  2. Tidak dapat mengendalikan syahwatAllah hanya menciptakan yang baik-baik saja. Syahwat Dia berikan kepada manusia demi kebaikan manusia. Cinta pada diri sendiri membuat orang mau memperhatikan dan menjaga dirinya. Cinta pada harta membuat orang mau bekerja untuk memperolehnya. Cinta pada lawan jenis membuat orang dapat menjaga kelangsungan umat manusia. Dst. Tapi, jika syahwat ini melewati batasannya, maka itu karena perbuatan manusia semata-mata dan itu akan menjadi penyebab kesengsaraannya. Orang yang tidak dapat mengendalikan syahwat boleh jadi akan berbuat zalim, merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, menyusahkan orang lain, bahkan membunuh orang lain, karena dia menyangka hal itu akan memuaskan syahwatnya. Allah SWT berfirman: واتبع الذين ظلموا ما أترفوا فيه وكانوا مجرمين artinya: Dan orang-orang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka itu adalah orang-orang yang berdosa/pelaku kejahatan.” (Hud: 116).
  3. Mempertahankan kekuasaanCinta pada kekuasaan adalah salah satu nafsu manusia yang paling berbahaya. Orang yang terkena penyakit cinta pada kekuasaan akan berusaha mempertahankan jabatan dan kedudukannya dengan berbagai cara, hingga dengan membunuh, memberangus suara orang lain, dan menelantarkan orang lain sekalipun karena dia menyangka bahwa hal ini akan melanggengkan kursinya. Padahal, keadilanlah yang melanggengkan seseorang pada kedudukan dan jabatannya, dan bukannya kezaliman. Nabi saw bersabda: إن الملك يبقى مع الكفر ولا يبقى مع الظلم artinya: “Kekuasaan itu dapat langgeng sekalipun sang penguasa kafir kepada Allah, tapi tidak akan langgeng jika sang penguasa berbuat dzalim.”
  4. Mental jongos. Maksudnya, seseorang berbuat dzalim demi seseorang yang dituankannya. Seseorang yang bermental jongos akan berusaha menjaga kepentingan tuannya agar tetap bertahan sebagai tuan. Dia bersedia melakukan kedzaliman dan kejahatan apa pun semata-mata agar tuannya memandang dirinya pantas menjadi jongos sang tuan.

2. Beberapa Ciri dan Sifat orang zalim

  1. Menentang dan berpaling dari ayat-ayat Allah. وما يجحد بآياتنا إلا الظالمون  “Hanya orang-orang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.” (al-Ankabut: 49). Allah menyediakan ayat-ayat-Nya sebagai hidayah dan pengarah. Mengingkarinya berarti tidak mengamalkannya. Ini adalah pengantar menuju kezaliman, bahkan kezaliman itu sendiri. 
  2. Melanggar batasan-batasan Allah. Maksudnya, tidak berkomitmen pada jalan yang benar sehingga pada waktu yang sama seseorang menyimpang dari jalan yang lurus dan terjebak di padang kesesatan. Allah SWT berfirman:تلك حدود الله فلا تعتدوها، ومن يتعد حدود الله فأولئك هم الظالمون “Itulah batasan-batasan Allah, janganlah kalian melanggarnya. Orang-orang yang melanggar batasan-batasan Allah, mereka adalah orang-orang yang dzalim.” (Al-Baqarah: 223). Mereka menzalimi diri sendiri dengan menempatkan diri mereka dalam hidup yang serba sulit dan serba sempit, juga menzalimi orang lain dengan menimbulkan berbagai masalah di masyarakat.
  3. Tidak menjadikan hukum Allah sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Perbedaan poin ini dengan poin sebelumnya, poin terdahulu dilakukan oleh masyarakat secara keseluruhan, sedangkan poin ini dilakukan oleh para penguasa. Kadang kala masyarakat ingin menerapkan ajaran Tuhan, tapi penguasa menghalang-halanginya dengan cara mengaburkan hukum Tuhan dan mengedepankan hukum manusia. Allah SWT berfirman: ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الظالمون Orang-orang yang tidak mengambil keputusan dengan berdasarkan kepada hukum Allah, mereka adalah orang-orang yang gzalim. (Al-Maidah: 45). 
  4. Mengikuti orang-orang kafirSalah satu sebab terbengkalainya hukum Allah dan terjerumusnya kita di padang kesesatan dan kelemahan adalah membiarkan orang kafir menguasai diri kita. Orang-orang kafir tentu saja ingin menerapkan ideologi yang mereka yakini, yaitu ideologi yang selaras dengan kepentingan dan hawa nafsunya. Karena itu, masyarakat kita melangkah ke arah yang tidak memberi manfaat, tapi justru membahayakan diri sendiri. Allah SWT berfirman: يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا آبائكم وإخوانكم أولياء إن استحبوا الكفر على الإيمان ومن يتولهم منكم فأولئك هم الظالمون Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (at-Taubah: 23). 
  5. Mengikuti hawa nafsuAl-Quran telah menjelaskan alasan-alasan seseorang menuruti bisikan hawa nafsunya, yaitu: a. Menipu orang lain demi melindungi kepentingannya  (Al-An’am: 144). b. Menghalang-halangi dilaksanakannya ajaran Allah jika bertentangan dengan kepentingannya. (al-Baqarah: 114)c. Membelot dari kebenaran dan tidak mendukungnya.(al-Baqarah: 140).

3. Do'a Perlindungan Dari Orang (Perbuatan) Dzalim


Banyak ayat dan hadits memerintahkan untuk berteman dengan orang-orang baik dan shalih. Karena teman seperti itu akan membantu dan mendorong kita berbuat baik. Berbeda dengan teman buruk, akibat buruk paling rendah mereka akan membuat waktu kita habis sia-sia tanpa berguna. Bahayanya terbesarnya, berteman dengan mereka bisa merusak iman dan agama kita, sehingga akan bersama mereka di akhirat kelak. Karena itu Al-Qur'an dan Sunnah sangat-sangat melarang berteman dengan mereka.   Sesungguhnya Allah telah memperingatkan hamba-Nya dari orang-orang buruk lagi jahat. Tujuannya, agar mereka tidak berteman karib dan berkawan akrab dengan mereka.

Allah Ta'ala berfirman,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
"Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)." (QS. Al-An'am: 68)
1. Do'a perlindungan dari hal yang buruk atau jahat.
Diriwayatkan dari 'Uqbah bin Amir, ia berkata; Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda:
اَللَّهُـمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوْءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوْءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْـمُقَامَةِ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, teman yang jahat, dan tetangga yang jahat di tempat tinggal tetapku." (HR. Al-Thabrani dalam al-Kabir-nya (14227) dengan isnad yang shahih. al-Hafidz Al-Haitsami menyebutkannya dalam Majma' al-Zawaa-id (10/144) dan mengatakan: Diriwayatkan al-Thabrani dan Rijalnya rijal shahih kecuali Bisyr bin Tsabit al-Bazzar, beliau tsiqat. Lihat juga Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1443).
2. Doa Agar Dijauhkan Dari Kedzaliman para penduduk
رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الطَّالِمِ اَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيْرًا 
"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". (QS. An-Nisaa' [4] : 75).
3. Doa Agar Dijauhkan Dari Kaum yang dzalim (Doa Asyhabul Kahfi)
رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ {الأعراف 
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu".(QS. Al A'raaf [7] : 47).
4. Memaafkan adalah pembalasan yang paling mulia.
Memaafkan adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta memaafkan kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya. Memang sebuah kewajaran bila seseorang menuntut haknya dan membalas orang yang menyakitinya. Dan dibolehkan seseorang membalas kejelekan orang lain dengan yang semisalnya. Namun alangkah mulia dan baik akibatnya bila dia memaafkannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: 

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang gzalim.(Asy-Syura: 40).
Memaafkan kesalahan orang acapkali dianggap sebagai sikap lemah dan bentuk kehinaan, padahal justru sebaliknya. Bila orang membalas kejahatan yang dilakukan seseorang kepadanya, maka sejatinya di mata manusia tidak ada keutamaannya. Tapi di kala dia memaafkan padahal mampu untuk membalasnya, maka dia mulia di hadapan Allah Subhanahu wa ta’ala dan manusia.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”. (QS. Al-A’raf 7:199).

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.(QS. An Nuur, 24:22).
Mereka yang tidak mengikuti ajaran mulia Al Qur’an akan merasa sulit memaafkan orang lain. Sebab, mereka mudah marah terhadap kesalahan apa pun yang diperbuat. Padahal, Allah telah menganjurkan orang beriman bahwa memaafkan adalah lebih baik:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14).
Berlandaskan hal tersebut, kaum beriman adalah orang-orang yang bersifat memaafkan, pengasih dan berlapang dada, sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an :
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Yaitu orang2 yang menginfakkan hartanya ketika lapang dan sempit dan menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. (QS. Ali ‘Imraan, 3:134).

4. Kisah dalam Al-Qur'an 

Q.S. At-Tahrim: 10-12
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلاً۬ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٍ۬ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٍ۬‌ۖ ڪَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَـٰلِحَيۡنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمۡ يُغۡنِيَا عَنۡہُمَا مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔ۬ا وَقِيلَ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٲخِلِينَ 
10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat* kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)".
وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلاً۬ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِى عِندَكَ بَيۡتً۬ا فِى ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِى مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِى مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّـٰلِمِينَ 
11.  Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu** dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim.
وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٲنَ ٱلَّتِىٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَـٰتِ رَبِّہَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَـٰنِتِينَ 
12.  Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.
 ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ                          
“Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
http://halamandakwah.blogspot.com/2012/04/makna-zalim.html
http://af4machtum.wordpress.com/2010/12/09/kezaliman-dan-orang-zalim-sifat-dan-akibatnya/
***
 Maksudnya: nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah apabila mereka menentang agama.
**  Maksudnya: sebaliknya sekalipun isteri seorang kafir apabila menganut ajaran Allah, ia akan dimasukkan Allah ke dalam jannah.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar