Rabu, 13 Maret 2013

10 Masjid Ter-Unik, Artistik dan Antik Di Indonesia

بسم االلهالرحمن اارحيم
Masjid di Indonesia  Sangat banyak jumlahnya, Dari mulai kota Besar hingga pelosok dusun, di Perkantoran Dan di komplek Perumahan, masjid dan tempat shalat begitu mudah didapatkan. Ternyata Dalam, membuat masjid, Unsur seni Ikut Bermain, Terbukti menurut penilaian Generasi sekarang, masjid-masjid itu terhitung memiliki value per share yakni ke-indahan dalam bentuk seni arsitektur, hingga tampak unik,antik, dan berbeda dengan masjid-masjid lain pada umumnya. Maka ditelitilah dan diselesksi sekian banyak masjid di negeri ini mana saja yang dianggap memenuhi kriteria dimaksud. Pilihan 10 mesjid ter-unik ini mungkin subyektif, tapi bolehlah diambil sebagai pembanding, toh tidak mengandung keutamaan pahala beribadah di masjid manapun antara yang satu dengan yang lainnya, kecuali shalat di Masjid Nabawi, Masjidil Haram dan Masjid Aqsa.

1. Masjid "Menara Kudus" Al Manar


Menara Kudus merupakan peninggalan Sunan Kudus yang dibangun di samping masjid yang konon pada saat pembangunannya dinamai dengan Masjid Al-Aqsa, karena batu pertama bangunan masjid tersebut didatangkan dari Jerussalem. Menara tersebut dibangun atas prakarsa Syech Ja’far Shodiq pada sekitar abad ke 16, hal ini dibuktikan dengan adanya candrasengkala yang berada di tiang menara yang berbunyi gapura rusak ewahing jagad. Menurut prof. DR RM Soetjipto Wirjosoeparto, candrasengkala ini menunjukkan Gapuro (9), Rusak (0), Ewah (6) Dan Jagad (1) yang dalam bahasa Jawa dibaca dari belakang  menjadi 1609, sehingga disinyalir bahwa menara ini tersebut dibangun pada tahun Jawa 1609 atau 1685 M.
Secara arsitektural, bentuk Menara Kudus lebih mirip dengan bangunan candi Hindu budha. Bentuk menara masjid hanya bisa ditemui di masjid Kudus. Bangunan klasik yang terbuat dari batu bata yang konon disusun tanpa menggunakan perekat setinggi 18 m mengisyaratkan adanya proses akulturasi budaya Hindu- Jawa-Islam yang pernah terjadi ketika penyebaran agama Islam oleh Sunan Kudus di wilayah Kudus.
Bangunan menara ini terdiri 3 bagian pokok yaitu kaki, badan dan puncak bangunan. Kaki dan badan diukir sebagaimana motif tradisi Jawa-Hindu, dan bagian puncak bangunan mustaka yang berupa atap tajug yang ditopang oleh empat batang saka guru. Dan disekeliling bangunan dihias dengan piring-piring biru dengan lukisan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma berjumlah 20 buah dan 12 piring buah  berwarna merah putih dengan lukisan bunga sebagai hiasannya.

2.MASJID MUHAMMAD CENG HO (SURABAYA)

Warna merah, kuning dan hijau membalut bangunan yang terlihat seperti klenteng. Siapa sangka, bangunan ini adalah masjid. Masjid Cheng Ho, paduan unik dari China, Timur Tengah dan Jawa di Surabaya.
Masjid bernuansa Tionghoa ini terletak di Jalan Gading, Kecamatan Genteng, Surabaya. Lokasinya sekitar 1 km sebelah utara Balaikota Surabaya dan sekitar 100 meter dari Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
"Pengambilan nama Cheng Hoo ini sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan segenap muslim di Surabaya dan Indonesia, terhadap Laksamana, bahariawan asal China beragama Islam. Selama perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho tidak hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tapi juga menyebarkan agama Islam di Indonesia," ujar Ta'mir Masjid Muhammad Cheng Ho, Ahmad Hariyono Ong kepada detiktravel, Selasa (9/7/2013).
Staf pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini menceritakan, masjid Cheng Hoo didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat dan pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam). Selain itu, pengurus Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur dan tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya juga diturutsertakan.
Peletakan batu pertama pada 15 Oktober 2001 bertepatan dengan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Pembangunan masjid selesai pada 13 Oktober 2002. Kemudian diresmikan oleh Menteri Agama RI Prof Dr H Said Agil Husein Al Munawar pada 28 Mei 2003.
Masjid yang bernama lengkap Masjid Muhammad Cheng Hoo ini berdiri di atas lahan seluas 21x11 m2 dan luas bangunan utama 11x9 m2. Masjid yang didominasi warna merah, kuning, hijau dengan ornamen bernuansa Tiongkok lama ini memiliki 8 sisi di bagian atas bangunan utama.
Ketiga ukuran dan angka ada maknanya yakni, angka 11 adalah ukuran Ka'bah saat baru dibangun. Sedangkan angka 9 melambangkan Walisongo. Sedangkan 8 artinya melambangkan Pat Kwa (dalam bahasa Tionghoa artinya keberuntungan atau kejayaan). Masjid Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jamaah

3. MASJID AGUNG DEMAK

Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.
Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka. Masjid ini didirikan pada tanggal 1 Shofar.
Arsitektur
Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.
Di dalam lokasi kompleks Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat Museum Masjid Agung Demak, yang berisi berbagai hal mengenai riwayat Masjid Agung Demak.
Masjid Agung Demak dicalonkan untuk menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1995.

4 MASJID Baiturrahman -. BANDA ACEH

Masjid Raya Baiturrahman adalah sebuah masjid Kesultanan Aceh yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam pada tahun 1022 H/1612 M. Bangunan indah dan megah yang mirip dengan Taj Mahal di India ini terletak tepat di jantung Kota Banda Aceh dan menjadi titik pusat dari segala kegiatan di Aceh Darussalam.
Sewaktu Kerajaan Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada agresi tentara Belanda kedua pada Bulan Shafar 1290 Hijriah/10 April 1873 Masehi, Masjid Raya Baiturrahman dibakar. Kemudian, pada tahun 1877 Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman untuk menarik perhatian serta meredam kemarahan Bangsa Aceh. Pada saat itu Kesultanan Aceh masih berada di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat yang merupakan Sultan Aceh yang terakhir.
Sebagai tempat bersejarah yang memiliki nilai seni tinggi, Masjid Raya Baiturrahman menjadi objek wisata religi yang mampu membuat setiap wisatawan yang datang berdecak kagum akan sejarah dan keindahan arsitekturnya, dimana Masjid Raya Baiturrahman termasuk salah satu Masjid terindah di Indonesia yang memiliki arsitektur yang memukau, ukiran yang menarik, halaman yang luas dengan kolam pancuran air bergaya Kesultanan Turki Utsmani dan akan sangat terasa sejuk apabila berada di dalam Masjid ini.

 5. MASJID PERAHU (JAKARTA)

   MASJID Agung Al-Munada Darrussalam Baiturrohman atau kerap disebut Masjid Perahu ini, sebuah bangunan masjid yang cukup unik dan menarik. Sebab, selain bentuk bangunannya mempunyai arsitektur yang unik juga letaknya berbeda dengan masjid- masjid pada umumnya. 
Masjid perahu ini berada di antara dua sisi tower Apartemen Casablanca yang menjulang, tepatnya di sebuah gang kecil yang diterangi oleh lampu neon 10 watt. Untuk menuju ke masjid perahu itu harus melalui gang yang memiliki beberapa undakan menurun sehingga tidak bisa dilalui dengan kendaraan. Minimnya lampu penerangan di depan gang membuat tulisan plang kecil menuju masjid tidak begitu jelas terlihat. Orang mengira gang tersebut adalah arah menuju komplek pekuburan atau menuju sebuah tanah kosong. Masjid yang berlokasi 15 meter dari Jalan Raya Casablanca itu terlihat asri.
Beberapa pohon besar yang tumbuh di sekitar masjid, menjadikan masjid ini layak jika dijadikan sebuah lokasi persembunyian. Kelelawar-kelelawar besar beterbangan berpesta buah ‘juwet’ yang sedang meranum. Beberapa buahnya berjatuhan mengotori pelataran masjid. Sementara suara deru kendaraan yang melintas di Jalan Raya Casablanca tidak terdengar di lokasi masjid tersebut.
Di sisi kiri masjid terdapat sebuah perahu besar dengan warna putih kusam. Bentuk perahu itulah yang menjadikan masjid ini disebut sebagai masjid perahu.Perahu yang terdapat di samping masjid itu adalah tempat wudlu bagi jamaah wanita dan juga berfungsi sebagai hijab atau pembatas pada saat jamaah wanita mengambil air wudlu. Masjid Agung Al-Munada Darrussalam Baiturrohman memiliki bagian inti masjid yang tidak terlalu besar. Namun setelah ada perbaikan di sisi kanan, kiri dan teras terlihat lebih besar.
Bagian inti masjid ditopang oleh empat pilar kayu berukuran besar. Pilar – pilar tersebut terbuat dari kayu jati dengan diameter kira-kira 60-an centimeter. Dua pilar belakang terbuat dari gelondongan kayu utuh tanpa sentuhan pahat. Sedang dua di depan terbuat dari potongan-potongan kayu jati (tatal-jawa) yang disatukan dan diukir seakan meniru pilar Masjid Agung Demak.
Lantai dan dinding bagian dalam masjid terbuat dari marmer berwarna kehijauan. Sedang garis shaf marmer berwarna putih. Ini berbeda dengan lantai bagian serambi yang terbuat dari keramik putih polos sebagaimana umumnya masjid zaman sekarang.
Sisi depan yang sejajar ruang imam dihiasi kayu jati berukir. Begitu pula tempat imam memimpin sholat. Sebuah batu putih berukuran lebih besar dari kepala manusia diletakkan persis di depan tempat khutbah. Batu itu mirip giok atau jade.
Selain terdapat batu mulia di depan mimbar masjid, batu mulia juga berada di bagian dalam. Belasan batu mulia yang jauh lebih besar terpasang di situ. Ada yang berwarna hijau licin dan transparan sehingga lantai di bawahnya hanya terlihat samar-samar. Ada yang berwarna merah bata, hitam dan juga putih kecoklatan. Ada juga yang masih kasar dan belum dipoles.
Belasan batu besar itu mengelilingi sebuah mushaf Al Quran raksasa. Ukurannya sekitar 2x1,5 meter dengan ketebalan sekitar 30-an centimeter. Kulit luarnya terbuat dari kayu jati yang berukir. Mushaf ini selesai dibuat sekitar akhir 90-an oleh salah seorang ustadz dan penyelesaiannya memakan waktu beberapa tahun.
Masjid Agung Al-Munada Darrussalam Baiturrohman didirikan sekitar awal tahun 60-an oleh KH Abdurrahman Masum di atas tanah yang telah diwakafkan oleh warga. Pembangunan memakan waktu 4 tahun sehingga masjid baru diresmikan pada tahun 1964.
Soal bentuk perahu di masjid itu, bukan karena KH Abdurrahman Masum bekas seorang pelaut tapi karena ia sangat mengagumi kisah Nabi Nuh as yang menyelamatkan umatnya lewat sebuah perahu besar. Sang pendiri itu merupakan salah satu tokoh thariqoh (tarekat) dan menjadikan batu-batu mulia sebagai bagian dari laku ritual untuk menciptakan suasana yang mampu mendatangkan ketenangan batin.
Karena ajaran thoriqoh itulah mereka tidak mau mengekspos masjid yang berbentuk unik ini. Sebab thoriqoh mengajarkan kesederhanaan dan kezuhudan. “Untuk ape kami dikenal?” ungkap pengurus itu dengan dialek Betawi. 


6. MASJID "Gereja" Cipari (GARUT)

Masjid ini memiliki keunikan karena mirip dengan bangunan gereja. Ciri yang menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah masjid, hanyalah kubah dan menara. Yang membuat Masjid Cipari sangat mirip dengan gereja, selain bentuk bangunannya yang memanjang dengan pintu utama persis ditengah-tengah nampak muka bangunan, juga keberadaan menaranya yang terletak di ujung bangunan persis diatas pintu utama.[1]
Posisi menara dan pintu utama telah menjadikan bagian ini tampil tepat sinergi dan tampak luas. Dari bentuk dan posisi menara dan pintu utama ini, bangunan ini mengingatkan pada bentuk bangunan-bangunan gereja. Ketika masuk ke dalam, yang memberi penanda bahwa bangunan ini adalah masjid hanyalah keberadaan ruang mihrab, berupa penampil yang menempel di dinding arah kiblat. Sementara ruang shalatnya, semuanya mirip ruang kelas yang dapat dimasuki dari pintu di sebelah utara dan selatan, atau dari pintu timur yang terletak di antara ruang naik tangga.[1]
Pada Masjid Cipari, langgam art deco sebagaimana dicirikan dengan bentuk geometris, terlihat jelas pada pengolahan mashabnya. Pola-pola dekorasi geometris yang berulang diatas material batu kali memperlihatkan dengan jelas langgam ini. Selain itu, garis horisontal yang halus pada sisi samping kanan maupun kiri, juga mencirikan langgam yang sama.[1]
Untuk menara dan atapnya yang menyerupai kubah dengan beberapa elemen dekorasi pada bagian samping maupun puncaknya, juga menegaskan langgam art deco yang artistik. Menara masjid berketinggian lebih kurang 20 meter, juga menegaskan bahwa bangunan ini adalah masjid.[1]
Masjid ini selain berfungsi sebagai masjid dan pesantren, pada zaman kolonial digunakan sebagai pesantren sekaligus tempat latihan perang, pertahanan pejuang kemerdekaan,[3] dan berdirinya PSII cabang Garut. Pada zaman kemerdekaan sebagai basis latihan tentara pejuang dan dapur umum. Pada zaman pemberontakan DI/TII dijadikan tempat pengungsian, perawatan pejuang yang terluka ketika kembali dari hijrah ke Yogyakarta, tempat perlindungan para pejuang dan keluarganya, dapur umum, serta latihan perang. Kemudian, pada zaman G30S/PKI dijadikan tempat perjuangan melawan PKI, tempat pertemua para ulama, pertahanan dan perlindungan, serta dapur umum. Sekarang, masjid ini berfungsi berfungsi sebagai tempat ibadah dan madrasah.

7 MASJID Kubah EMAS -. DEPOK

Masjid Dian Al Mahri dikenal juga dengan nama Masjid Kubah Emas [1] adalah sebuah masjid yang dibangun di tepi jalan Raya Meruyung, Limo, Depok di Kecamatan Limo, Depok. Masjid ini selain sebagai menjadi tempat ibadah salat bagi umat muslim sehari-hari, kompleks masjid ini juga menjadi kawasan wisata keluarga dan menarik perhatian banyak orang karena kubah-kubahnya yang dibuat dari emas. Selain itu karena luasnya area yang ada dan bebas diakses untuk umum, sehingga tempat ini sering menjadi tujuan liburan keluarga atau hanya sekedar dijadikan tempat beristirahat.
Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Uniknya, seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Selain itu di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan langsung dari Italia seberat 8 ton[4].
Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.
Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.
Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam atau heksagonal, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.
Pada bagian interiornya, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton[5], yang pengerjaannya digarap ahli dari Italia.

8. Masjid Pintu Seribu


Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 1 hektar  ini didirikan sekitar tahun 1978.  Pendirinya adalah seorang warga keturunan Arab yang warga sekitar menyebutnya dengan sebutan  Al-Faqir. Al Faqir ini adalah salah satu santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor yang memulai pembangunan masjid itu dengan membuat Majelis Ta’lim terlebih dahulu di daerah tersebut. Ia pun membangun masjid ini dengan merogoh koncek kantongnya dari sendiri.
Warga sekitar pun untuk menghormatinya lantas memberikannya gelar Mahdi Hasan Al-Qudratillah Al Muqoddam. Al-Faqir ini kabarnya tidak membangun majis di Tangerang saja melainkan  juga membangun masjid serupa di Karawang, Madiun, dan beberapa kota lain di Indonesia.
Arsitektur Luar dan Dalam Masjid
Tidak seperti saat kita membangun sebuah bangunan yang harus didahului dengan membuat rancang bangunnya atau blueprintnya terlebih dahulu. Masjid seribu pintu ini pembangunan justru tidak memakai gambar rancang.
Jadi tidak desain dasar yang bisa menampilkan corak arsitektur tertentu. Bisa dikatakan masjid ini campur aduk desain arsitekturnya bila dilihat dari adanya pintu-pintu gerbang yang sangat ornamental mengikuti ciri arsitektur zaman Baroque, tetapi ada juga yang bahkan sangat mirip dengan arsitektur Maya dan Aztec. Masjid ini memang memiliki banyak sekali pintu, namun tidak memiliki kubah besar sebagaimana masjid pada umumnya.
Di beberapa pintu masjid tampak ornamen dengan angka 999. Angka 999 itu merupakan penggabungan jumlah asma Allah yang berjumlah 99 dan 9 wali songo. Di antara pintu-pintu masjid terdapat banyak lorong sempit dan gelap yang menyerupai labirin. Di ujung lorong ada beberapa ruang  bersekat-sekat hingga membentuk ruangan seperti mushola dan setiap ruangan (mushola) yang luasnya  adalah sekitar 4 meter diberikan nama. Ada mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu.
Setiap lorong di masjid ini sudah dilengkapi dengan penunjuk jalan. Dan, salah satu ruang dari sekian banyak lorong itu menuju ruang bawah tanah yang disebut ruang tasbih. Ruang ini biasa digunakan oleh Al Faqir dan jamaah lainnya untuk ber-istiqomah.


9. MASJDI Bawah TANAH TAMAN SARI



Masjid ini terbilang unik. Seperti namanya, masjid ini berada di bawah tanah. Selain itu, masjid dua lantai dengan bangunan melingkar ini juga difungsikan sebagai benteng pertahanan. Tak ayal, dinding masjid ini begitu tebal.
MASJID bawah tanah Sumur Gumuling berada di komplek wisata Tamansari. Untuk menuju lokasi, pengunjung bisa berjalan kaki menyusuri lorong-lorong bawah tanah. Suasana klasik terasa begitu kaki menjejaki anak tangga dan melewati lorong tersebut.
Lokasi masjid bisa dijangkau dari parkiran sepeda motor di depan pintu masuk Tamansari ke arah utara. Kemudian belok kiri hingga menemukan pintu masuk. Ikuti lorong tersebut hingga menemukan bangunan masjid berbentuk bulat dan berwarna coklat muda atau krim.
Namun jangan dibayangkan bentuk masjid ini seperti kebanyakan masjid lainnya. Karena juga difungsikan sebagai benteng, bentuk bangunan ini terlihat kokoh dan besar. Sejak tahun 1812 bangunan masjid sudah tidak difungsikan.
Keterangan Parjio, staf karyawan Tamansari, masjid tersebut didirikan tahun 1765. Kata dia, masjid bawah tanah merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan difungsikan hingga masa kepemimpinan Sultan HB II.
"Masjid juga difungsikan sebagai benteng perlindungan bawah tanah," kata Parjio yang bertugas di loket penjualan tiket

10. Masjid An Nurumi

Masjid An Nurumi atau dijuluki Masjid Kremlin ini merupakan masjid kecil di tepi Jalan Solo Km 15, Candisari Kalasan Yogyakarta. Masjid An Nurumi memiliki desain arsitektur cukup unik. Kubah atapnya mirip bangunan di Moscow, Russia. Ada juga yang menjuluki Masjid Permen, sebab kubahnya warna-warni mirip permen lolipop.
Penjaga Masjid Kremlin mengatakan, tadinya masjid ini sering dikira tempat bermain atau toko oleh-oleh karena atapnya seperti permen lolipop dan beraneka warna sehingga kelihatan semarak untuk ukuran sebuah tempat ibadah.
“Pada mulanya masjid ini didirikan hanya sekedar untuk tempat peribadatan sekaligus tempat persinggahan jika ada anda melintas di jalan ini,”ujar Riyanto.Lebih lanjut Rinyanto mengatakan karena unik, menarik dan warna-warni kubahnya banyak orang yang melintasi singgah dimasjid ini hanya untuk sekedar ingin memenuhi keingintahuan mereka bangunan apakah itu.
Kalau diamati memang kubah-kubahnya mirip sekali dengan arsitektur gaya istana Saint. Basil cathedral yang di Kremlin, namun hanya kubahnya saja yang mengadapatasi kubah gaya moscow, bangunan di dalamnya seperti masjid pada umummnya yang memiliki mimbar bergaya jawa.Pada bulan ramadhan, masjid ini hanya digunakan untuk kegiatan takjilan karena daya tampungnya yang tidak begitu banyak untuk menyelenggarakan salat tarawih.

Semoga bermanfaat.
Sumber:
http://www.merdeka.com/gaya/masjid-an-nurumi-masjid-di-yogya.html
 سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك 
"Maha suci Engkau ya Allah, Dan Segala puji  Bagi-Mu. : Aku bersaksi bahwa Tiada  Tuhan                 melainkan Engkau. Mohon ampun: aku bertaubat kepada-Dan Mu. "                    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar